Redaksi
Kamis, 20 November 2025 | 16:54 WIB
YOGYAKARTA | WALIMEDIA.ID - Program Kampung Nelayan
Merah Putih (KNMP), salah satu program prioritas pemerintah untuk mengangkat
kesejahteraan masyarakat pesisir, menunjukkan progres signifikan di berbagai
daerah. Salah satu lokasi yang mendapat sorotan adalah Dusun Poncosari,
Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kini mencatat kemajuan
pembangunan mencapai 55 persen. Angka tersebut menempatkan Poncosari sebagai
salah satu dari tiga lokasi tercepat dalam realisasi pembangunan KNMP secara
nasional.
Program tersebut dibahas secara
komprehensif dalam dialog Bincang Hari Ini Jogja TV pada Rabu (19/11/2025) bersama
Trian Yunanda, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi Sosial
Budaya sekaligus Ketua Tim Pelaksana KNMP, dan Doni Ismanto, Staf Khusus Menteri
Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Publik. Keduanya menjelaskan
arah pembangunan serta dampak strategis KNMP bagi masyarakat pesisir.
Trian Yunanda menegaskan bahwa
KNMP bertujuan mengubah stigma kampung nelayan yang selama ini lekat dengan
kesan kumuh dan minim fasilitas dasar. Program tersebut menghadirkan
transformasi ruang hidup dan ruang sosial agar masyarakat pesisir menjadi lebih
produktif, mandiri, dan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat. Langkah
tersebut dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana lengkap mulai dari
hulu hingga hilir.
Dalam pembangunan KNMP,
pemerintah menghadirkan fasilitas seperti pabrik es, slurry ice, cold storage,
gudang beku, kios perbekalan melaut, bengkel mesin, hingga docking yard untuk perbaikan
kapal. Seluruh fasilitas tersebut akan dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih sebagai
unit bisnis yang menopang ekonomi masyarakat setempat. Melalui pendekatan
tersebut, masyarakat tidak hanya menikmati infrastruktur baru, tetapi juga
memiliki ruang pemberdayaan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Dalam laporan yang disampaikan
Doni Ismanto, target pembangunan KNMP di tahun 2025 mencakup 100 titik lokasi
di seluruh Indonesia. Hingga saat sekarang, sebanyak 65 titik telah memasuki
tahap pembangunan fisik dengan progres di atas 40 persen, sementara 35 titik
lainnya sedang dalam proses finalisasi penetapan. Progres tersebut dicapai
secara bervariasi mengingat karakteristik geografis dan tantangan lapangan di
tiap daerah.
Doni menjelaskan bahwa tantangan
utama pelaksanaan program meliputi ketersediaan tenaga kerja terampil dari
masyarakat lokal dan akses material yang sulit di beberapa wilayah. Meski
demikian, Poncosari menjadi salah satu lokasi tercepat karena tingginya
keterlibatan masyarakat dan tenaga kerja lokal yang bekerja dengan komitmen
tinggi, termasuk melakukan lembur untuk mengejar target pembangunan.
KNMP menggunakan pendekatan
social engineering yang menekankan keterlibatan masyarakat sejak tahap
perencanaan. Pemerintah secara langsung berdialog dengan warga untuk memetakan
kebutuhan, menilai kesiapan, dan memastikan dukungan penuh terhadap program.
Lokasi yang diusulkan masyarakat melalui pemerintah daerah mendapatkan
prioritas dalam penetapan.
Masyarakat juga didorong untuk
menunjukkan potensi wilayah mereka melalui media sosial sebagai bagian dari
literasi publik dan penilaian kesiapan lokasi. Partisipasi tersebut menjadi
indikator kemauan masyarakat untuk berubah dan berkolaborasi dalam pengembangan
kampung nelayan modern. Tanpa dukungan masyarakat, program dikhawatirkan tidak
berkelanjutan karena keberhasilan KNMP bertumpu pada budaya kerja dan
pemberdayaan jangka panjang.
Trian Yunanda mengungkapkan bahwa
Poncosari dipilih melalui serangkaian kajian yang mencakup potensi wisata,
kondisi lingkungan, dan keterlibatan masyarakat. Lokasi yang berdekatan dengan
kawasan wisata Pantai Baru dinilai ideal untuk dikembangkan sebagai kampung
nelayan modern yang bersih, tertata, dan menarik bagi pengunjung. Pemerintah
juga menekankan pentingnya penataan lanskap agar wilayah tersebut memiliki daya
tarik visual yang kuat sebagaimana prototipe KNMP di Biak.
Selain itu, masyarakat Poncosari
menunjukkan dukungan tinggi terhadap program, bahkan turut menyampaikan masukan
untuk memastikan pembangunan berjalan efektif. Pemerintah menilai penerimaan
masyarakat sebagai faktor kunci dalam keberhasilan transformasi kampung
nelayan, sehingga Poncosari dipandang siap menjadi model percontohan KNMP yang
berkelanjutan.
Dalam dialog tersebut, pemerintah
juga menanggapi pertanyaan masyarakat terkait potensi integrasi KNMP dengan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Trian menyebutkan bahwa fasilitas seperti
gudang beku, pabrik es, dan rantai dingin yang dibangun dalam KNMP akan
mendukung stabilitas pasokan ikan segar untuk program MBG. Dengan demikian,
nelayan dapat meningkatkan produksi tanpa khawatir hasil tangkapan rusak atau
tidak terserap pasar.
Penyediaan gudang beku
memungkinkan nelayan beroperasi lebih lama dan menangkap ikan dalam jumlah
lebih besar. Hal tersebut diperkirakan mampu menjaga stabilitas harga ikan
khususnya pada musim panen raya ketika pasokan cenderung melimpah. Integrasi
tersebut sekaligus memastikan bahwa kebutuhan protein nasional, terutama untuk
anak-anak dalam program MBG, dapat terpenuhi secara konsisten dan terjangkau.
Pemerintah menjelaskan bahwa
Poncosari akan menjadi pusat (hub) pengembangan kluster pesisir di wilayah DIY
dan sekitarnya. Desa-desa nelayan yang belum memiliki lahan atau belum
mengusulkan KNMP dapat terintegrasi dengan fasilitas di Poncosari melalui
kendaraan pendingin dan kapal angkut untuk distribusi hasil tangkapan. Model
tersebut diharapkan membangun ekosistem bisnis pesisir yang lebih besar dan
saling terhubung.
Ketika ekosistem tersebut berjalan,
pemerintah menyiapkan off-taker agar harga ikan stabil dan pasokan tetap
terjamin. Ekosistem yang terbangun diharapkan mendukung target nasional untuk
mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir serta meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Keberhasilan intervensi sebelumnya di Biak yang meningkatkan
pendapatan masyarakat hingga 100 persen menjadi inspirasi untuk replikasi
program ke ribuan lokasi.
Doni menegaskan bahwa KNMP bukan
sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi pembangunan budaya kerja dan jiwa
kewirausahaan di masyarakat nelayan. Program tersebut tidak dimaksudkan untuk
memberikan bantuan berupa “gajian”, melainkan memperkuat usaha nelayan melalui
peningkatan kapasitas, penyediaan peralatan, dan perbaikan rantai nilai
perikanan.
Masyarakat pesisir akan dibekali
pelatihan kewirausahaan, pemasaran digital, alternatif sumber pendapatan, serta
keselamatan melaut. Balai pertemuan yang dibangun di Poncosari akan menjadi
pusat kegiatan edukasi dan koordinasi. Pendampingan operasional dilakukan
secara berkelanjutan termasuk melalui kerja sama dengan OJK untuk literasi dan
inklusi keuangan.
Pemerintah memastikan bahwa
seluruh intervensi, mulai dari pabrik es hingga kendaraan pendingin, telah
dirancang untuk membentuk rantai dingin yang utuh. Kondisi geografis Bantul
yang memiliki ombak lebih tinggi juga diperhitungkan dalam penyediaan sarana
keselamatan dan pemilihan peralatan yang tepat bagi nelayan. Dengan kelengkapan
fasilitas tersebut, ekonomi sirkular di Poncosari diharapkan berjalan secara
optimal.
Program KNMP menempatkan kesejahteraan
masyarakat sebagai prioritas melalui integrasi antara pembangunan fisik,
pemberdayaan manusia, dan kepastian pasar. Langkah tersebut dinilai mampu
mengangkat derajat masyarakat pesisir dan mendukung visi nasional menuju 0%
kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
(Dilaporkan
oleh Muhammad Fadhli)